08 7 / 2014

"

Ya Allah, aku percaya kalau Indonesia ini kaya, Indonesia punya SDM yang banyak, Indonesia bisa memenuhi kebutuhan energi sendiri, Indonesia bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri, Indonesia bisa memberikan akses pendidikan yang berkualitas untuk semua, Indonesia bisa memberikan akses kesehatan untuk semua, Indonesia bisa membuat vaksin sendiri, Indonesia bisa membuat alat transportasi sendiri, dan banyak lagi.

Ya Allah, karuniailah Indonesia dengan seorang pemimpin yang benar-benar bisa membuat Indonesia seperti apa yang seharusnya Indonesia miliki. The awesome Indonesia.

Aamiin.

I’m ready for tomorrow, 9 July 2014 :D

"

labibah 

03 7 / 2014

Hari ini, 3 Juli 2014, ada dua momen yang bersejarah bagi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Saya sebagai Research Assistant di Lembaga ini, awalnya merasak kaget tentang kabar mendadak pergantian Direktur Utama Eijkman. Mengapa mendadak? Mengapa saat bulan puasa? Mengapa saat satu minggu menjelang pilpres? Apakah saling berhubungan?

Ternyata hari ini memang hari yang bersejarah bagi Eijkman. Pertama penggantian Profesor Sangkot Marzuki dengan Profesor Amin Soebandrio sebagai direktur baru. Profesor Sangkot Marzuki, saat mengucapkan farewell kepada seluruh staf Eijkman, membacakan sebuah renungan. Renungan yang dibacakan oleh Prof Sangkot, sukses membuat saya berkaca-kaca.

Pada tanggal 3 Juli 1945, Direktur Pertama Lembaga Eijkman, Profesor Achmad Mochtar, telah gugur dipancung oleh tentara pendudukan Jepang. Prof Mochtar dituduh memimpin tindakan sabotase terhadap Jepang dengan mengkontaminasi vaksin tifus cholera disentri dengan bakteri dan toksin tetanus yang membunuh ribuan pekerja romusha. Prof Mochtar dan rekan-rekan sejawatnya disiksa, disuruh mengakui tuduhan tersebut. Siksaan berbulan-bulan diterimanya,namun tentara Jepang tidak mendapatkan satu pengakuan apapun. Karena memang tidak ada yang harus diakui.

Prof Mochtar mengetahui bahwa tanpa pengakuan, dirinya bersama-rekan-rekannya akan terus disiksa sampai mati. Beliau mengambil satu-satunya jalan yang diketahuinya, yaitu menyerahkan diri kepada Jepang asalkan rekan-rekannya dibebaskan.

Rekan-rekannya akhirnya dibebaskan oleh Jepang, namun dirinya dieksekusi oleh tentara Jepang pada tanggal 3 Juli 1945. Kepalanya dipenggal dan tubuhnya dilindas. Sisa-sisa tubuhnya dibuang ke pemakaman masal di Ancol. Sejak saat itu, tidak ada satupun yang mengtahui makam sang Profesor.

Pada tahun 2010, Direktur Lembaga Eijkman, Profesor Sangkot dan Kevin Baird, Direktur Eijkman Oxford Clinical Research Unit berhasil menemukan makam Prof Mochtar di Ereveld Ancol dengan mencari informasi dari beberapa dokumen peperangan.

Di tempat itu, delapan puluh tahun lalu, Prof Mochtar mati pahlawan. Sang Pendahulu lembaga ini, Cristiaan Eijkman berkata “Saya tidak hidup sia-sia.” -saat mendekati akhir hidupnya. Mungkin itu juga yang dipikirkan oleh Prof Mochtar saat dieksekusi.  

Renungan pagi ini seperti menampar diri saya. Sudahkah saya memberikan apa yang ada dalam diri saya untuk ilmu pengetahuan?

Prof Sangkot Marzuki (kiri) bersama cucu Prof Mochtar, Monique Mochtar (tengah) dan Jolanda Mochtar (kanan) pada Juli 2010. Foto dari detik foto.

26 6 / 2014

This video clip makes me happy tonight! :D

It is Maroon 5 Medley by Victoria Justice & Max Sneider. Watch it! Enjoy it!

23 6 / 2014

Akhirnya ngajar lagi!

Sabtu lalu, saya ikutan kersosnya BEM Teknik. Ceritanya diajakin temen karena tertarik bakalan ngajar kelas profesi untuk anak-anak SD di daerah yang juauuuuuuh buanget. Tepatnya di Cileuksa, di Bogor antah berantah ujung gunung yang memakan 5 jam perjalanan dari Depok.

Seru banget sih! Tapi sayangnya, waktu semua anak diminta menuliskan cita-citanya, gak ada yang punya cita-cita jadi Ilmuwan. Hahahahaaaa mungkin sayanya aja yang kurang menginspirasi.

Tapi anak-anaknya pada antusias banget kok pake jas lab, masker, glove, dan eksperimen. (tetep ye:p)

Hahahahaha yang penting ini seru dan nagih banget :D

10 5 / 2014

Dulu, waktu masih kuliah pengen banget jadi dosen. Akhirnya setelah lulus nyoba beasiswa ini itu untuk segera dapat S2 dan jadi dosen. Ternyata belum diijinkan. Sekarang saya bekerja di Eijkman Institute. Saya belajar banyak tentang Infectious Disease, khususnya malaria. Sebenarnya major S2 yang saya inginkan juga gak jauh-jauh dari itu.
Sekarang saya sadar, kalau sebenarnya, bukan profesi apa yang harus saya kejar. Tapi bisa expert dalam bidang apa. Apa yang kamu suka, misalnya Biologi atau Medical Science, dalamilah itu. Profesi hanyalah efek samping dari keahlian yang saya punya nantinya.
Kalau profesi yang utama sih tetep ingin jadi Istri sama Ibu :D
Hehehe… 

Dulu, waktu masih kuliah pengen banget jadi dosen. Akhirnya setelah lulus nyoba beasiswa ini itu untuk segera dapat S2 dan jadi dosen. Ternyata belum diijinkan. Sekarang saya bekerja di Eijkman Institute. Saya belajar banyak tentang Infectious Disease, khususnya malaria. Sebenarnya major S2 yang saya inginkan juga gak jauh-jauh dari itu.

Sekarang saya sadar, kalau sebenarnya, bukan profesi apa yang harus saya kejar. Tapi bisa expert dalam bidang apa. Apa yang kamu suka, misalnya Biologi atau Medical Science, dalamilah itu. Profesi hanyalah efek samping dari keahlian yang saya punya nantinya.

Kalau profesi yang utama sih tetep ingin jadi Istri sama Ibu :D

Hehehe… 

11 4 / 2014

We are best friend.
We share happiness, sadness, time, food, attention, love story, life story, knowledge, discussion, and many more.
Today, we declare who is the first among us publishing International Journal as first author. The competition is started from now untill the entire of our life.
Here we are, soon known as
Labibah Qotrunnada (left): expert on tropical disease, malaria, histology, and molecular biology.
Diny Hartiningtias (right): expert on forest dynamics, conservation, ecology, and plant science.

We are best friend.

We share happiness, sadness, time, food, attention, love story, life story, knowledge, discussion, and many more.

Today, we declare who is the first among us publishing International Journal as first author. The competition is started from now untill the entire of our life.

Here we are, soon known as

Labibah Qotrunnada (left): expert on tropical disease, malaria, histology, and molecular biology.

Diny Hartiningtias (right): expert on forest dynamics, conservation, ecology, and plant science.

27 3 / 2014

Soon will be visiting you, Bromo. 

Photo by Si Ganteng :p

06 3 / 2014

earth-song:

Indonesian traditional childrens games by ~riorr

20 2 / 2014

neuromorphogenesis:

The Science Of Mental Illness

by bestmastersinpsychology

(via thescienceofreality)

20 2 / 2014

tedx:

Beware of The Blob! In this talk from TEDxToulouse, biologist Audrey Dussutour uncovers the mystery of myxomycota — a.k.a. le blob — the fascinating blob organism whose unicellular structure betrays a surprising personality.

Learn more about the blob here»

(Photos: Audrey Dussutour, annetanne, wild-eyes, nein09, Phlilcha, Stu Phillips)

Cool!

13 2 / 2014

scienceyoucanlove:

Close-up of a cell infected with HIVElectron micrograph of HIV particles (pink) budding from the membrane of a host cell. HIV (human immunodeficiency virus) attacks CD4+ T-lymphocytes (specialised white blood cells), which are crucial in the body’s immune system. It enters the cell and makes many copies of itself, which then destroy the cell as they emerge through its membrane. This severely weakens the immune system, causing AIDS (acquired immunodeficiency syndrome).There is still no cure for AIDS, recent hopeful tests of supposedly healed patients have turned into a bitter loss and a re-infection.Image by Thomas Deerinck
source

scienceyoucanlove:

Close-up of a cell infected with HIV

Electron micrograph of HIV particles (pink) budding from the membrane of a host cell. HIV (human immunodeficiency virus) attacks CD4+ T-lymphocytes (specialised white blood cells), which are crucial in the body’s immune system. 

It enters the cell and makes many copies of itself, which then destroy the cell as they emerge through its membrane. This severely weakens the immune system, causing AIDS (acquired immunodeficiency syndrome).
There is still no cure for AIDS, recent hopeful tests of supposedly healed patients have turned into a bitter loss and a re-infection.

Image by Thomas Deerinck

source

(via thescienceofreality)

13 1 / 2014

earth-song:

Find out how incredibly intelligent plants really are; not only can they smell, hear and touch - they even store memories! 

Sorry vegetarians!

Sorry fruit, I eat you a lot. Perhaps make u hurt :’(

13 1 / 2014

"Kata siapa seorang ilmuwan tidak bisa kaya? Sebenarnya, aset utama seorang ilmuwan adalah ilmu pengetahuan. Kalau mau kaya, ya harus pintar. Dengan kepintaran kita, kita bisa punya banyak grant, melakukan banyak penelitian, kita bisa jadi lebih tau banyak hal, dan tentunya banyak uang. Hehehe :p Jadi kalau mau kaya, ya harus pintar."

13 1 / 2014

Halo!

Sudah lama gak update tentang kegiatan sehari-hari. Kemarin, saya dan teman saya Odyt main sama anak-anak kecil lagi. Kali ini saya jadi volunteer untuk nemenin adik adik panti asuhan nonton bareng di Pondok Indah Mall. Nama kegiatannya 1 Kakak 1 Adik. Kita nonton film Princess, Bajak Laut, dan Alien. Waktu nonton film juga bareng sama artisnya. Filmnya seru! Anak-anak banget. Pesannya juga gampang dicerna.

I’m so happy :D :D :D

24 12 / 2013

SOME OF FAVORITE SPOTS IN EIJKMAN INSTITUTE FOR MOLECULAR BIOLOGY

Sejak pertengahan November 2013 lalu, saya mulai bekerja di Eijkman Institue (EI). EI ini adalah lembaga riset di bidang kedokteran molekuler. Beberapa penelitiannya seperti forensik, malaria, thallasemia, dengue, hepatitis, virus, dan lain-lain. Kalau saya cerita tentang Eijkman dari segi risetnya, mungkin terlalu panjang. Nanti saya bikin tulisannya sendiri. Hehe.

Selain riset yang sangat menarik, saya suka banget sama arsitektur interiornya. Saya bisa bilang Eijkman itu vintage, classic, elegant, dan smart. Saya coba iseng-iseng foto dengan kamera HP saya. Makanya hasilnya kurang bagus. Gemes banget sebenernya pengen foto di setiap sudut dari Eijkman.

Singkat cerita, Eijkman dulu ini adalah Lembaga Riset Kedokteran yang didirikan oleh peraih Nobel di Bidang Kedokteran yang bernama Christian Eijkman. Lembaga ini sudah berdiri sejak jaman penjajahan Belanda dulu. Namun, penelitian di Eijkman ini sempat berhenti beberapa tahun. Kemudian dibuka lagi atas perintah BJ Habibie pada tahun 1992. Ah, terima kasih Pak Habibie :D

Hebatnya, para Profesor di EIjkman yang ada saat ini, tidak ingin bangunan ini dipugar. Tetap dirawat dan ditonjolkan bagian-bagian yang menjadi ciri klasik dari Lembaga ini. 

Terima kasih Eijkman :D